Kawin Kontrak


Pengertian Kawin kontrak disebut juga Kawin Mut’ah atau kawin wisata atau yang lebih populer disebut kawin kontrak adalah kawin yang dibuat atas dasar kontrak atau perjanjian, yang jangka waktunya terserah perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak. Boleh satu tahun, boleh satu bulan, boleh satu hari, boleh satu jam dan boleh sekali main.

Sedang jumlah wanita yang di-Mut’ah terserah kepada si laki-laki, boleh berapa saja, terserah kekuatan dan minat si laki-laki.

Mereka tidak saling mewarisi bila salah satu pelakunya mati, meskipun masih dalam batas waktu yang disepakati. Juga tidak wajib memberi nafkah dan tidak wajib memberi tempat tinggal.

Mut’ah dilakukan tanpa wali dan tanpa saksi, begitu pula tanpa talaq dan habis begitu saja pada akhir waktu yang disepakati.

Pelakunya boleh perjaka atau duda, bahkan yang sudah punya istri. Sedang si-wanita boleh masih perawan atau sudah janda.

Adapun tempatnya boleh dimana saja, baik didalam rumah sendiri maupun diluar rumah.

Sekaran ini ada Rancangan Undang-undang Peradilan Agama bidang Perkawinan yang antara lain melarang nikah siri dan kawin kontrak terus menuai kontroversi. Kabar ini tentu saja ikut menyentak mereka yang suka melakukan kawin kontrak dengan pria asing, seperti yang galib dilakukan wanita di kawasan Puncak, Jawa, Barat.

Selain alamnya yang indah dan berhawa sejuk, kawasan Puncak memang menyimpan fenomena unik terkait kawin mut’ah alias kawin kontrak. Antara Juli hingga September, vila di Warung Kaleng, Desa Tugu, Cisarua, misalnya, dipenuhi para turis mancanegara asal Timur Tengah dan sejumlah negara Eropa.

Bukan sesuatu yang aneh memang. Namun, sambil menikmati liburan musim panas di kawasan Puncak, ada juga sebagian dari mereka yang menikahi wanita setempat. Jangka waktunya selama mereka berlibur di Puncak.

Munculnya draf RUU Peradilan Agama bidang Perkawinan yang antara lain melarang nikah siri alias pernikahan tanpa kehadiran pejabat resmi pernikahan dan kawin kontrak. Pasal 144 misalnya menyebutkan, pelaku kawin kontrak diancam pidana maksimal tiga tahun penjara dan perkawinannya batal demi hukum.

Tak ayal draf RUU tersebut mencuatkan pro-kontra dan sejumlah unjuk rasa. Menteri Agama pun buru-buru meminta semua pihak menghentikan polemik karena RUU tersebut baru berupa draft yang bisa saja berubah.

Aku setuju banget dengan Undang undang ini yang meberikan hukuman pidana kepada pelaku kawin kontrak, karena mereka hanya untuk kepuasan napsu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s